Tata Gerak dan Sikap Tubuh dalam Perayaan Ekaristi

Oleh: Blasius Dodu

Tata gerak dan sikap tubuh dalam perayaan Ekaristi haruslah dilaksanakan sedemikian rupa, sehingga;

  • Seluruh perayaan memancarkan keindahan sekaligus kesederhanaan yang anggun,
  • Makna dari setiap bagian perayaan dipahami umat secara tepat dan penuh,
  • Membuat umat sungguh berpartisipasi secara aktif.

Sikap tubuh yang seragam menandakan kesatuan seluruh umat yang berhimpun serta mencerminkan dan membangun sikap batin yang sama.

MAKNA DARI SIKAP TUBUH

Tanda Salib dengan air suci di pintu masuk gereja sebagai peringatan pembaptisan yang telah kita terima.

Sikap Berdiri sebagai tanda hormat dan syukur kepada Tuhan yang hadir ditengah umat-Nya melalui Firman, Tuhan yang setia mendengar dan mengabulkan doa umat-Nya.

Kita berdiri saat:

  • Ritus Pembuka, dimulai saat menyambut perarakan imam dan pelayan liturgis menuju altar.
  • Bait pengantar Injil, Injil, Syahadat, Doa Umat, Doa Persiapan Persembahan,
  • Prefasi dan Kudus
  • Doa Bapa Kami, Doa Damai dan Doa sesudah Komuni

Sikap Berlutut sebagai sikap pertobatan dan mohon ampun serta sembah sujud dan hormat kepada Tuhan. Kita berlutut pada saat:

  • Doa Syukur Agung
  • Persiapan Komuni dan setelah menerima Komuni.

Sikap Duduk sebagai ungkapan kesediaan mendengar, merenungkan sabda Tuhan dan kesediaan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Dilakukan pada saat:

  • Bacaan pertama dan kedua (kalau ada), homili, persiapan persembahan dan pengumuman.

Sikap Membungkuk sebagai tanda ungkapan imam, dilakukan ketika mengucapkan Syahadat pada kalimat ”… yang dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria,” (Syahadat pendek) atau ”… Ia dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria dan menjadi manusia” (Syahadat panjang).

Sikap Menyembah sebagai tanda hormat dan bakti kepada Tuhan, dilakukan ketika Imam mengangkat Tubuh dan Darah Kristus, setelah mengucapkan kata-kata konsekrasi.

Menebah Dada (mirip”menepuk dada”), dilakukan pada : Pernyataan Tobat, Saya Mengaku, ketika mengucapkan ”…saya berdosa, saya berdosa, saya sungguh berdosa,” sebagai tanda tobat dan penyesalan.

Menundukkan Kepala:

  • Pada saat konsekrasi setelah Imam selesai mengangkat Tubuh dan Darah Kristus sebagai tanda hormat dan bakti pada Tuhan.
  • Menerima berkat sebagai tanda kesediaan dan kerendahan hati.

Mengatupkan Tangan sebagai ungkapan kesetiaan kepada Tuhan, dilakukan ketika berjalan menuju tempat penerimaan komuni dan ketika kembali ke tempat duduk.

Berlutut Satu Kaki menghadap altar, dilakukan pada waktu masuk gereja (sebelum memasuki tempat duduk) dan pada saat hendak keluar gereja (setelah keluar dari tempat duduk), sebagai tanda hormat kepada Tuhan Yesus yang hadir dalam Sakramen Ekaristi.

Sumber:

  • Tata Perayaan Ekaristi, Buku Umat, Konferensi Waligereja Indonesia 2005
  • Pedoman Umum Misale Romawi, Komisi Liturgi KWI, Nusa Indah 2002

Leave a Comment

Your email address will not be published.

eleven − 7 =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.