Sabtu Sesudah Rabu Abu (U), Sabtu, 09 Maret 2019

Bacaan:
Yes 58:9b-14;
Mzm 86:1-2.3-4.5-6;
Luk 5:27-32.

Renungan Sore:

Tidak sedikit orang yang bersalah menutupi kesalahannya dengan memarahi sesama atau bahkan menuduh-nuduh orang yang bersih. Inilah bentuk “farisi” di dunia modern ini. Yesus tidak menyukai kemunafikan bahkan kesombongan rohani.

Itulah sebabnya, Yesus menyatakan: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit! Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.” Pertobatan yang sejati bukanlah menutupi kesalahan dengan menunjuk-nunjuk/menuduh sesama.

Melainkan dengan rendah hati mau mengakui keberdosaan dan kesalahan sendiri seraya memohon ampun kepada Tuhan. Pertobatan diwujudkan pula melalui kepedulian terhadap sesama. Tidak lagi mengenakan kuk kepada sesama, dan tidak lagi menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah; menyerahkan kepada orang lapar apa yang kita inginkan dan memuaskan hati orang yang tertindas. Maka terangmu akan terbit dalam gelap, dan kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari.

Kontemplasi:
Bayangkanlah pertobatan yang diiringi dengan kerendahan hati dan kepedulian terhadap sesama.

Refleksi:
Bagaimana anda menjalankan masa pertobatan ini dengan pengakuan yang rendah hati dan kepedulian terhadap sesama?

Doa:
Ya Bapa, berikanlah kepada kami pengalaman akan pertobatan yang sejati, yang membawa kami pada kerendahan hati dan kepedulian terhadap sesama. Amin.

Perutusan:
Aku akan memgakui dosa dan kesalahanku dengan rendah hati seraya meningkatkan kepedulian terhadap sesama.