Rabu Prapaskah ke-1 (U), Rabu, 13 Maret 2019

Bacaan:
Yun 3:1-10;
Mzm 51:3-4.12-13.18-19;
Luk 11:29-32.

Renungan Sore:

Manusia yang keras kepala dan tegar hati, sulit untuk berkembang dan menemukan kedamaian dan sukacita. Hidupnya penuh keluhan tentang betapa ia diperlakukan tidak adil, baik oleh Tuhan maupun sesama. Mereka sulit untuk bersyukur dan menemukan kasih dalam hidup mereka.

Inilah yang terjadi pada orang Israel pada zaman Yesus. Mereka tidak dapat melihat, bahkan menolak Kristus yang dinantikan seluruh makhluk. Hingga Yesus harus mengutip kisah penduduk Niniwe, kota kafir yang tahu bertobat ketika mendengarkan Yunus atau cerita ratu dari selatan yang datang dari jauh untuk mendengarkan kata-kata hikmat Salomo.

Sementara para pendengar Yesus yang sebetulnya umat pilihan Allah itu malah tidak tahu bertobat dan tidak mau mendengarkan. Padahal, Yesus lebih besar dari Yunus dan Salomo. Yesus adalah tanda yang sangat nyata akan cinta Allah yang demikian besar pada manusia, tidak hanya itu, Yesus juga merupakan tanda kepedulian Allah terhadap penderitaan manusia.

Bila hati kita tidak buta, maka kita akan melihat tanda cinta Tuhan yang sangat nyata dalam kehidupan sehari-hari. Warta Gembira yang mengingatkan kita bahwa kita adalah anak Allah yang merdeka dan telah dibebaskan dari perbudakan dosa.

Kontemplasi:
Bayangkanlah Kristus yang dinantikan oleh banyak manusia hadir kepadaMu dalam kehidupan ini.

Refleksi:
Bagaimana anda dapat menemukan dan mensyukuri Kristus, Kasih Allah, dalam kehidupan anda sekarang ini?

Doa:
Ya Bapa, ajarlah kami untuk berlaku sebagai anakMu yang merdeka dari belenggu dosa dengan berani membuka hati dan budi kami pada KasihMu. Amin.

Perutusan:
Aku akan belajar menemukan dan mensyukuri kasih Allah dalam hidup ini.