Jumat Sesudah Rabu Abu (U), Jumat, 08 Maret 2019

Bacaan:
Yes 58:1-9a;
Mzm 51:3-4.5-6a.18-19;
Mat 9:14-15.

Renungan Sore:

Ada umat yang bertanya, “Romo, apakah kami boleh berpantang dan berpuasa diluar waktu yang diwajibkan” Menanggapi tersebut, saya mengajak saudara tersebut untuk mengali makna dari puasa dan pantang. Jangan sampai kita jatuh pada aturan/kewajiban semata sehingga melakukan puasa/pantang dengan hati terpaksa.

Puasa dan pantang bukanlah rutinitas, tujuan atau kewajiban semata, melainkan merupakan wujud syukur kita atas rahmat pertobatan yang diberikan Tuhan. Pada masa penuh rahmat ini, Allah memberi kesempatan kita untuk menjalin kembali relasi kita yang telah rusak akibat dosa. Sebagai wujud syukur itulah, kita berpuasa dan berpantang.

Itulah sebabnya, kita memasuki dan melakukan puasa dan pantang dengan gembira, bukan dengan hati yang terpaksa. Hal ini sejalan hari raya Imlek, bagaimana kita memasuki tahun baru ini dengan penuh rasa syukur, dengan kegembiraan dan kepedulian terhadap sesama. Di samping Gereja Keuskupan Agung Jakarta telah memberi dispensasi sehingga dapat mengganti pantang di hari yang lain.

Kontemplasi:
Bayangkanlah puasa dan pantang sebagai wujud syukur kita terhadap anugerahk Tuhan dalam masa pertobatan ini.

Refleksi:
Bagaimana anda menjalankan masa puasa dan pantang dengan sukacita dan bukan secara terpaksa?

Doa:
Ya Bapa, ajarlah kami untuk mengisi masa yang penuh rahmat ini dengan melakukan puasa dan pantang dengan hati yang bersyukur, penuh kegembiraan dan kepedulian terhadap sesama. Amin.

Perutusan:
Aku akan menjalankan puasa dan pantangku dengan rasa syukur pada Tuhan, kerelaan hati, dan kepedulian terhadap sesama.