Jumat pekan Prapaskah V (U), Jumat, 12 April 2019

Bacaan:
Yer 20:10-13;
Mzm 18:2-3a.3bc-4.5-6.7;
Yoh 10:31-42.

Renungan Sore:

Beban penderitaan dan pengalaman hidup yang pahit terkadang dipandang sebagai kutuk/hukuman terhadap dosa. Hal inilah yang membuat kita sulit untuk menerima kegetiran hidup sebagai berkat dan kasih Allah yang terselubung.

Melalui penderitaan yang dialaminya, Yeremia justru semakin mengenal siapa Allah bagi dirinya. Allah adalah Tuhan yang senantiasa mengasihi dan menyelamatkannya dari pelbagai kesulitan, tantangan bahkan serangan dari musuh-musuhnya.

Penderitaan hanya menjadi kutuk apabila kita malas untuk menemukan berkat dan makna di balik kesulitan tersebut. Tidak jarang permasalahan hidup menjadi batu loncatan yang memampukan pribadi tersebut menjadi manusia yang lebih baik dan tahu bersyukur.

Kitapun diajak untuk berani memaknai setiap moment dari pengalaman hidup kita: baik suka-duka; keberhasilan-kegagalan; tawa canda-air mata; dan mensyukurinya sebagai rahmat yang memurnikan dan mendewasakan kita. Dan semuanya itu kita rangkum dalam bingkai Kasih Allah yang senantiasa menyelamatkan.

Kontemplasi:
Bayangkanlah pengalaman kesulitan dan penderitaan yang pernah anda alami, sebagai sarana yang menempa anda agar dapat berkembang menjadi insan yang lebih baik dan tahu bersyukur.

Refleksi:
Bagaimana anda berani memaknai setiap sisi dari pengalaman hidup anda sebagai rahmat Allah yang senantiasa menyertai dan menguatkan anda?

Doa:
Ya Bapa, sadarkanlah kami bahwa dari setiap pengalaman hidup ini, Engkau senantiasa berbicara dan meneguhkan kami. Karena Engkaulah Allah yang mengasihi dan mendewasakan kami. Amin.

Perutusan:
Aku akan belajar merefleksikan/memaknai pengalaman harianku dalam bingkai Kasih Allah.